Super
Jet Yang Membawa Maut
Rabu
sore tanggal 9 Mei 2012 menjadi peristiwa penting di lingkungan kedirgantaraan
Indonesia. Pada hari itu terjadi kecelakaan pesawat Sukhoi yang menabrak tebing
di kawasan gunung Salak Bogor, Jawa Barat. Pesawat yang sedang melakukan
testimonial penerbangan di indonesia ini hilang kontak sejak 12 menit setelah take off dari bandar udara Halim Perdana
Kusuma sekitar pukul 3 sore. Pesawaat naas ini diketahui telah menabrak tebing
setelah dilakukan pencarian berdasarkan olah data dari pusat informasi kedirgantaraan
bandara Halim Perdana Kusuma.
Berbagai
spekulasi tentang keadaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 pun muncul. Diantaranya
adalah hancurnya pesawat tersebut. Hal tersebut menjadi benar adanya ketika tim
basarnas dan jajaran TNI serta Polri di kerahkan intuk mengetahui keadaan
pesawat SSJ 100 yang sebenarnya setelah spekulasi itu muncul. Tak urung pihak
keluargapun berdatangan ke Halim Perdana Kusuma untuk memastikan bagaiman
keadaan anggota keluarga yang ikut dalam testimonial penerbangan tersebut.
Melihat
kondisi pesawat yang hancur lebur, tim Sar, Basarnas, dan jajaran TNI serta
POLRI langsung mengambil langkah untuk mengevakuasi para korban. Proses
jalannya evakuasi sempat terhambat karena cuaca yang buruk dan tidak menentu
serta medan yang berat. Lima hari setelah berlangsungnya proses evakuasi, telah
didapatkan potongan jenazah korban dan identitas para korban yang dimasukan
kedalam kantong jenazah. Kemudian kantong jenazah tersebut di bawa ke rumah
sakit POLRI guna di otopsi dan kemudian hasilnya akan diserahkan ke oihak
keluarga yang di tinggalkan korban.
Sampai
pencarian di hari kelima telah berhasil diangkat sebanyak 22 kantong jenazah
yang kemudian di antar ke ruamh sakit polri guna di otopsi. Kemungkinan untuk
bertanbahnya jumlah korban masih banyak karena menurut data yang di himpun dari
bandara Halim Perdana Kusuma ada 50 orang yang berada di dalam SSJ 100 ini. Dari
kelimapuluh orang ini termasuk didalamnya adalah kru, pilot dan pramugari dari
pesawat Sukhoi Super Jet 100. Proses evakuasi berjalan sangat lambat karena
medan jatuhnya yang sulit yaitu di lembah bukit gunung salak. Kemiringan lembah yang mencapai 85 derajat adalah
penyebeb utama disamping cuaca yang buruk.
Proses
evakuasi bisa dikatakan repot karena jarak tempuh dari gunung Salak yang ada di
Bogor ke rumah sakit Polri, Jakata yang jauh. Pilihan yang tepat maka jatuh di
opsi untuk jalur udara setelah melihat jalur darat sulit untuk mempercepat
proses evakuasi korab SSJ 100. Proses otopsi berjalan sulit karena kondisi dari
jenazah yang tak layak, yaitu berupa potongan-potongan tubuh korban. Untuk itu
pemerintahpun mendatangkan tim DVI dari dalam negeri dan luar negeri yaitu dari
Rusia.
Efek
dari tragedi ini adalah tertundanyua pembelian pesawat ini yang semula telah di
pesan oleh PT Maskapai Penerbangan Swasta di Indonesia. Pesawat ini semula
telah di pesan sebanyak 30 unit oleh
perusahaan maskapai swasta. Namun karena adanya peristiwa ini, pembelian pun
tertunda. Efek lain adalah jatuhnya korban jiwa sdalam peristiwa ini.
Blog RSS Feed
Via E-mail
Twitter
Facebook
0 komentar:
Posting Komentar