Selasa, 22 Mei 2012

super jet SUKHOI 100


Super Jet Yang Membawa Maut
Rabu sore tanggal 9 Mei 2012 menjadi peristiwa penting di lingkungan kedirgantaraan Indonesia. Pada hari itu terjadi kecelakaan pesawat Sukhoi yang menabrak tebing di kawasan gunung Salak Bogor, Jawa Barat. Pesawat yang sedang melakukan testimonial penerbangan di indonesia ini hilang kontak sejak 12 menit setelah take off dari bandar udara Halim Perdana Kusuma sekitar pukul 3 sore. Pesawaat naas ini diketahui telah menabrak tebing setelah dilakukan pencarian berdasarkan olah data dari pusat informasi kedirgantaraan bandara Halim Perdana Kusuma.
Berbagai spekulasi tentang keadaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 pun muncul. Diantaranya adalah hancurnya pesawat tersebut. Hal tersebut menjadi benar adanya ketika tim basarnas dan jajaran TNI serta Polri di kerahkan intuk mengetahui keadaan pesawat SSJ 100 yang sebenarnya setelah spekulasi itu muncul. Tak urung pihak keluargapun berdatangan ke Halim Perdana Kusuma untuk memastikan bagaiman keadaan anggota keluarga yang ikut dalam testimonial penerbangan tersebut.
Melihat kondisi pesawat yang hancur lebur, tim Sar, Basarnas, dan jajaran TNI serta POLRI langsung mengambil langkah untuk mengevakuasi para korban. Proses jalannya evakuasi sempat terhambat karena cuaca yang buruk dan tidak menentu serta medan yang berat. Lima hari setelah berlangsungnya proses evakuasi, telah didapatkan potongan jenazah korban dan identitas para korban yang dimasukan kedalam kantong jenazah. Kemudian kantong jenazah tersebut di bawa ke rumah sakit POLRI guna di otopsi dan kemudian hasilnya akan diserahkan ke oihak keluarga yang di tinggalkan korban.
Sampai pencarian di hari kelima telah berhasil diangkat sebanyak 22 kantong jenazah yang kemudian di antar ke ruamh sakit polri guna di otopsi. Kemungkinan untuk bertanbahnya jumlah korban masih banyak karena menurut data yang di himpun dari bandara Halim Perdana Kusuma ada 50 orang yang berada di dalam SSJ 100 ini. Dari kelimapuluh orang ini termasuk didalamnya adalah kru, pilot dan pramugari dari pesawat Sukhoi Super Jet 100. Proses evakuasi berjalan sangat lambat karena medan jatuhnya yang sulit yaitu di lembah bukit gunung salak. Kemiringan  lembah yang mencapai 85 derajat adalah penyebeb utama disamping cuaca yang buruk.
Proses evakuasi bisa dikatakan repot karena jarak tempuh dari gunung Salak yang ada di Bogor ke rumah sakit Polri, Jakata yang jauh. Pilihan yang tepat maka jatuh di opsi untuk jalur udara setelah melihat jalur darat sulit untuk mempercepat proses evakuasi korab SSJ 100. Proses otopsi berjalan sulit karena kondisi dari jenazah yang tak layak, yaitu berupa potongan-potongan tubuh korban. Untuk itu pemerintahpun mendatangkan tim DVI dari dalam negeri dan luar negeri yaitu dari Rusia.
Efek dari tragedi ini adalah tertundanyua pembelian pesawat ini yang semula telah di pesan oleh PT Maskapai Penerbangan Swasta di Indonesia. Pesawat ini semula telah di pesan sebanyak  30 unit oleh perusahaan maskapai swasta. Namun karena adanya peristiwa ini, pembelian pun tertunda. Efek lain adalah jatuhnya korban jiwa sdalam peristiwa ini.

0 komentar:

Posting Komentar